Musik dan Kosmos: Sebuah Pengantar Etnomusikologi (Buku Karya Prof.Shin Nakagawa)


Pengertian Etnomusikologi

Istilah etnomusikologi berasal dari ethnomusicology (bahasa Inggris). Ethnomusicology sendiri dibentuk dan berasal dari tiga kata, yaitu “ethnos”, “mousike”, dan “logos” (bahasa Yunani); ethos berarti hidup bersama, yang kemudian berkembang menjadi bangsa atau etnis, mousike artinya music, sedangkan logos artinya bahasa atau ilmu (Tokumaru 1996:16). Tiga kata tersebut digabung menjadi ethnomusicology atau etnomusikologi (Indonesia), artinya ilmu music bangsa-bangsa.

Sejarah ilmu ini belum lama, kira-kira seratus tahun yang lalu. Di Jerman etnomusikologi muncul pada akhir abad XIX, akan tetapi ilmu ini berasal dari tradisi ilmu pengetahuan Barat atau Eropa. Setelah berkembang di Barat, etnomusikologi kemudian menyebar keseluruh pelosok dunia, termasuk didalamnya ke Indonesia. Dengan dasar pengetahuan etnomusikologi tersebut masing-masing menemukan metodenya sendiri yang cocok dan kita harus melakukan hal itu. Namun sebelum kita membahas perkembangan etnomusikologi di luar Negara asalnya, terlebih dahulu akan dibahsa etnomusikologi yang asli.

Etnomusikologi merupakan bagian dari musikologi. Etnomusikologi terpisah dari musikologi pada abad XIX. Pada awalnya ilmu ini tidak disebut etnomusikologi, akan tetapi “vergleichen de Musikwissenschaft” atau music perbandingan (Erich van Hornbostel). Disebut demikian karena peneliti saat itu benar-benar membandingkan music-musik yang ada di dunia ini. Dalam analisisnya para peneliti pada saat itu selalu menggunakan teori music Barat sehingga pengaruh ilmu music Barat tidak dapat dielakkan. Hal ini membawa dampak sangat luas, misalnya karena mereka sudah terbiasa mendengar music diatonic yang menggunakan 12 nada, maka mereka merasa aneh apabila mendengar tangga nada atau laras gamelan Jawa itu salah. Namun demikian tidak semua peneliti berbuat demikian, ada peneliti yang berusaha menghindari pengaruh Barat tersebut.

Salah satu contoh peneliti, itu misalnya, Alexander John Ellis.

Ellis meneliti akustik music etnis tanpa menghiraukan kebudayaannya atau latar belakang music tersebut. Ellis menggunakan ilmu alam atau mengukur frekuensi nada-nada music rakyat.  Hasil penelitiannya populer pada saat itu. Selain itu masih ada satu metode penelitian ‘folksong’ (lagu rakyat) yang muncul pada saat itu. Metode ini menekankan pada penelitian lapangan atau ‘field research’. Metode ini juga dihargai tinggi. Tokohnya adalah ‘Kodaly dan Bartok dari Hongaria’. Kebetulan mereka juga composer music Barat yang terkenal; oleh karena itu mereka tidak hanya membuat ‘database’ (transkripsi lagu rakyat) saja, akan tetapi juga memasukkan unsure music rakyat ke dalam karyanya.

KEBUDAYAAN BALI (Bentuk Desa)_Buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesai, Prof. Dr. Koentjaraningrat


Desa di Bali adalah terutama didasarkan atas kesatuan tempat. Sebagian dari tanah di wilayahnya adalah milik para warga desa sebagai individu, tetapi sebagian lagi adalah tanah yang ada di bawah wilayah desa 3) . Desa-desa pegunungan biasanya mempunyai pola perkampungan yang memusat, sedangkan desa-desa yang mempunyai system Banjar 4) dan desa-desa di daerah dataran, mempunyai pola yang terpancar.

Disamping kesatuan wilayah, maka sebuah desa merupakan pula kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks, kuil, desa yang disebut kayangan tiga ialah pura puseh, pura Bale-Agung, dan pura Dalem. Adakalanya Pura Puseh, dan Pura Bale-Agung dijadikan satu, disebut Pura Desa.

Sepertinya diterangkan di atas, konsep mengenai arah adalah amat penting artinya dalam agama orang Bali. Hal-hal keramat diletakkan pada arah gunung (kaja). Dan hal-hal biasa dan tak keramat diletakkan pada arah laut (kelod). Klasifikasi dualistis yang demikian ini tercermin pula pada letak susunan rumah dan bangun-bangunan pusat dari desa. Sedapat mungkin letak dari bangun-bangunan desa akan disesuaikan dengan konsep mengenai arah tadi. Demikian misalnya pada arah gunung diletakkan Pura Desa, dan pada arah laut diletakkan Pura Dalem (kuil ang ada hubungannya dengan kuburan dan kematian) 5).

Pada Daerah yang mempunyai system Banjar, maka arah bangunan balai banjar tempat warga Banjar mengadakan rapat dan kegiatan-kegiatan lainnya, sedangkan disekelilingnya terdapat perumahan warga Banjarnya. Kompleks bangunan-bangunan (Bale) yang ditempati oleh keluarga inti maupun keluarga-luas, dibangun di atas suatu pekarangan yang biasanya dikelilingi oleh dinding dengan gapura sempit. Diantara Komplek Bale itu ada beberapa bangunan untuk tidur, satu atau beberapa dapur, lumbung tempat untuk menerima tamu, dan kuil untuk keluarga (sanggah). Seluruh komplek sebagai kesatuan disebut uma. Mengenai letak dari Bale, Sanggah, dan sebagainya, pada umunya menuruti suatu pola susunan tertentu. Kuil keluarga yang dianggap suci terletak dibagian arah kaja. Sedangkan kediaman pada arah Kelod. Bangunan Bale masing-masing mempunyai nama-nama sendiri menurut fungsinya dalam adat maupun dalam kebutuhan sehari-sehari.

 

1)       Tanah dibawah hak wilayah desa adalah tanah yang ada di bawah pengawasan desa, atau secara konkret di bawah pengawasan pimpinan desa. Tanah seacam itu bias diberikan kepada pamong desa atau pejabat desa, juga kepada warga desa yang membutuhkan tanah itu. Dalam hal itu pamong dan pejabat-pejabat desa harus mengembalikan tanah kepada desa bila mereka berhenti, sedangkan desa berhak mencabut kembali tanah yang diberikan kepada warga desa bila perlu.

2)       Mengenal Banjar itu, lihat hal. 293 (Buku Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Prof. Dr. Koentjaraningrat).

3)       Dalam hubungan kayangan tiga ini didaerah Buleleng (Bali Utara), dimasukkannya Pura Segara (kuil yang berhubungan dengan penghormatan dewa laut). Tentu saja terdapat pelbagai variasi mengenai letak dan gabungan-gabungan kuil-kuil (pura) kayangan tiga itu. Untuk ini lihat R. Goris, The Religious Character of the Village Community, dalam buku J. L. Sweellengrebel, et al., 1960 hal. 80-90. Dalam agama Hindu modern sekarang ini di Bali kuil-kuil tersebut dihubungkan dengan pemujaan pada Trimurti, pura desa (Bale Agung) untuk Brahmana, Pura Puseh aatu Segara untuk wisnu, sedangkan Pura Dalam untuk Durga yang merupakan sakti (istri) Siwa. Pura Puseh pada sifatnya merupakan paemujaan pada leluhur desa.

KEBUDAYAAN BALI_Buku “Manusia dan Kebudayaan di Indonesia” (Prof. Dr. Koentjaraningrat)


I.            IDENTIFIKASI

Suku-bangsa Bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan kebudayaannya, sedangkan kesadran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran yang demikian, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi dan perbedaan setempat. Di samping itu agama Hindu yang telah lama terintegrasikan ke dalam kebudayaan Bali, dirasakan pula sebagai suatu unsure yang memperkuat adanya kesadaran akan kesatuan itu.

Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah di Bali dalam Zaman Majapahit dahulu, menyebabkan adanya dua bentuk masyarakat di Bali, ialah masyarakat Bali-Aga dan Bali Majapahit (Wong Majapahit). Masyarakat Bali-Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Hindu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali-Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tigawasa, di Kabupaten Buleleng dan desa Pengganan Pengringsingan di Kab. Karangasem. Sekarang ini komunikasi modern, pendidikan, serta proses modernisasi telah membawa banyak perubahan-perubahan juga dalam masyarakat dan kebudayaan dari desa-desa tersebut. Orang Bali-Majapahit yang pada umumnya diam di daerah-daerah dataran berupa bagian yang paling besar dari penduduk pulau Bali. Kecuali di pulau Bali, ada juga orang Bali di bagian barat dari pulau Lombok, sedangkan usaha transmigrasi oleh pemerintah telah menyebarkan mereka ke daerah-daerah lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Pulau Bali yang luasnya 5808,8 km2dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk daratan yang agak sempit disebelah utara, dan dataran yang lebih besar di sebelah selatan. Pegunungan tersebut yang untuk sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba yang lebat, mempunyai arti penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. Di wilayah pegunungan itulah terdapat kuil-kuil (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti pura Pulaki, pura Batukau, dan terutama sekali pura Besakih, yang terletak dikaki gunung Agung; sedangkan arah membujur dari deret gunung-gunung itu telah menyebabkan penujukkan arah yang berbeda untuk orang di Bali utara dari orang di Bali selatan.

Dalam bahasa Bali, Kaja  berarti ke gunung,dan Kelod berarti ke laut. Demikian untuk orang Bali utara, kaja itu berarti “selatan”, sedangkan untuk orang Bali selatan, kaja  berarti “utara”, sebaliknya, kelod untuk orang Bali utara berarti “utara”, dan untuk orang Bali selatan berarti “selatan”. Perbedaan ini tida saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tetapi juga dalam beberapa aspek kesenian dan juga sedikit bahasa. Orang Bali menyebut daerah di bagian utara itu daerah Den Bukit (Kab. Buleleng sekarang) dan daerah-daerah di bagian selatan Bali tengah (Kab. Tambanan, Badung, Gianyar, Klungkung). Betapa besar arti dari konsep Kaja-Kelod. Dalam masyarakat Bali itu, nampak pula dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara agama, letak susunan bangun-bangunan rumah kuil dan sebagainya 1) .

Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa-bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata-kata dan strukturnya, maka bahasa Bali tak jauh berbeda dari bahasa-bahasa Indonesia lainnya. Peninggalan-peninggalan prasasti dari zaman Bali-Hindu menunjukkan adanya suatu bahasa Bali kuno yang agak berbeda dengan bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno itu, disampaikan mengandung banyak kata-kata sansekerta, pada masa kemudiannya terpengaruh juga oleh bahasa Jawa kuno dari zaman Majapahit, ialah zaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal pula apa yang disebut “perbendaharaan kata-kata hormat”, walaupun tidak sebanyak seperti didalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (Basa Alus) yang dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi, telah mengalami beberapa perubahan berhubung pengaruh modernisasi dan cita-cita demokrasi akhir-akhir ini 2) .

Di Bali pun berkembang kesusastraan lisan dan tulisan baik dalam pusi maupun prosa. Disamping itu sampai kini di Bali didapati juga sejumlah hasil kesusastraan Jawa kuno (Kawi) baik dalam bentuk puisi maupun prosa yang dibawa ke Bali di bawah kekuasaan raja-raja Majapahit

 

1)       Adapun mengenai arah Timur (Kangin) sifatnya disamakan dengan arah kaja, dan Barat (kauh) disamakan dengan Kelod. Arah-arah itu sama baik di Bali utara maupun selatan. Untuk ini lihatlah C.J. Grader, Tweedeeling in Het Oud Balische Dorp, Mededeelingen Van De Kirtya Liefrinck Van Der Tuuk, V, 1937 : hlm. 46-47.

2)       Lihat J. Kersten, tata bahasa Bali, Ende: hlm, 13-25

SENI PERTUNJUKAN


SENI PERTUNJUKAN

 

Istilah seni pertunjukan dalam bahasa Indonesia dan Melayu  Malaysia adalah sebagai padanan istilah performing art dan cultural performance dalam bahasa Inggris. Menurut Murgiyanto (1995) kajian-kajian keilmuwan mengenai seni terbagi kedalam rumpun-rumpun seni: (a) seni pertunjukan, yang di dalamnya terdiri lagi dari percabangan seni music, tari, dan teater. Bidang kajian disiplin ini meluaskan diri sampai kepada sirkus, cabaret, olahraga, ritual, upacara, prosesi pemakaman dan lain-lainnya, (b) seni visual atau seni rupa yang terdiri dari seni murni, seni patung, kerajinan atau kriya, lukis, disain grafis, disain interior, disain eksterior, reklame, dan lain-lainnya, (c) seni media rekam, yang terdiri dari: televise, radio, computer, internet, dan lain-lainnya. Seni sastra umumnya menjadi bagian kajian dari ilmu sastra dan linguistic, seni arsitektur atau seni bina menjadi bagian kajian ilmu teknik. Namun kesemua bidang ini saling memiliki hubungan teoritis, metodologis dan sejarah dalam ilmu pengetahuan manusia.

Ilmu seni pertunjukan telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang mencoba menerapkan berbagai kajian dan metodologi, yang sifatnya integrative dan interdisiplin. Dalam disiplin seni pertunjukan ini, para ilmuwannya selalu menggunakan pendekatan perbandingan. Bahwa seni pertunjukan dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, yang merangkumi aktivitas-aktivitas seperti olahraga, sulap, perayaan, upacara yang sifatnya social. Begitu pula pelbagai aktivitas yang sifatnya lebih menekankan kepada aspek estetika seperti dalam seni music, tari, dan teater.

Seni pertunjukan sebagai disiplin ilmu coba dikembangkan pelbagai metode dan teorinya oleh para ilmuwannya. Para ilmuwan seni pertunjukan ini mencoba mengembangkan sekumpulan konsep dan pendekatan keilmuwan yang bersifat saintifik, menjelajahi pelbagai teori dan metodologi merangkumi disiplin-disiplin antropologi, sosiologi, sejarah, teori sastra, semiotika, analisis structural, analisis fungsional, teori feminimisme, etnologi, analisis gerak tari dan teater, psikologi perceptual, estetika dan teori seni pertunjukan itu sendiri. Dalam rangka memberikan perspektif pertunjukan yang terintegrasi, tari dan music tidak hanya dipelajari sebagai pertunjukan yang berdiri sendiri merupakan bagian dari teater, upacara dan kehidupan social budaya manusia.

Seni pertunjukanyang didukung oleh music, tari, dan teater menjadi suatu bagian dari konsep estetika. Musik sendiri adalah sebuah aktivitas yang material dasarnya adalah bunyi-bunyian yang mengandung nada dan ritem tertentu. Sementara seni tari menggunakan medium utamanya yaitu gerak-gerik tubuh manusia, dan teater melibatkan pelbagai medium baik bunyi-bunyian, gerak-gerik, alam sekitar maupun bahasa dan sastra. Dengan demikian dalam seni pertunjukan pendekatan structural atau teks dan fungsional atau konteks menjadi bagian yang saling berintegrasi dan saling mendukung. Dalam seni pertunjukan biasanya satu genre tertentu telah mangandung music atau tari dan teater sekaligus. Namun ada yang mengandung satu bidang saja (Sal Murgiyanto 1995). Demikian konsep dan definisi tentang seni pertuunjukan.

(DARI BUKU “MASYARAKAT KESENIAN DI INDONESIA”_Dra. Heristina Dewi, M.Pd_2008_FIB USU)

SULING LOANG TELU (NUSA TENGGARA BARAT)_ORGANOLOGI AKUSTIKA


Suling Loang Telu merupakan salah satu jenis alat musik tiup dari daerah Lombok Barat. Suling Loang Telu berarti suling berlobang tiga. Loang berarti lubang, Telu berarti tiga. Suling Loang Telu yang asli lubangnya ada tiga, yaitu dua di atas untuk sistem penjaringan, dan satu di bawah untuk ibu jari. Sekarang ditambah satu lobang lagi sehingga menjadi empat, namun namanya tetap Suling Loang Telu.
Suling Loang Telu termasuk alat musik aerofon tanpa lidah tipewhistle flute, yaitu jenis suling bambu yang bercincin. Suling Loang Telu mempunyai bagian-bagian sebagai berikut :
  1. Seleper (cincin), terdiri dari segabung rautan bambu tipis, dapat juga bebungkulani (bambu utuh tidak diraut).
  2. Loang Lelet, yaitu lubang yang terdapat di bawah selepar.
  3. Awak Suling (badan suling).
  4. Loang Atas (lubang atas), banyaknya 3 buah.
  5. Loang Bawak (lubang bawah), satu buah.
Ukuran panjang suling dan jarak lubang, memakai ukuran tradisional. Panjang suling adalah sesengkel, yaitu jarak antara rentangan inan ima (ibu jari) dengan tijuk (telunjuk). lubang pertama diukur sepengempes inan ima, yaitu selebar ibu jari. Sedang jarak loang lelet dengan loang bawak adalah empat nyari (empat jari).
Suling Loang Telu dibuat dari satu jenis bilok (buluh) yang disebut bilok gres (buluh pasir). Suling loang telu tidak diberi hiasan atau ornamen apapun. Unsur musikal lebih dipentingkan dari unsur estetis.
Menyetem untuk memperoleh suara yang diinginkan dilakukan dengan jalan melebarkan atau memperdalam langan angin (jalan angin), yaitu sebuah saluran pipih yang terdapat di bawah seleper, lurus dengan loang lelet.
Pembuatan saluran ini dilakukan dengan sangat hati-hati, karena terlalu dalam atau terlalu lebar sedikt saja dapat mempengaruhi produksi suara. Menurut keterangan Informan, bahwa pada mulanya, yaitu kira-kira empat generasi yang lalu, Suling Loang Telu ini lubangnya hanya tiga, yaitu dua di atas dan satu di bawah. Pada masa itu Suling Loang Telu adalah suling yang bertuah, dan khusus dipergunakan untuk memikat hati dedera (gadis) idaman. Meniupnya pada tengah  malam sampai menjelang subuh oleh seorang teruna (jejaka), ataupun yang sudah beristri yang jatuh cinta pada seorang dedera. Jika seorang dedera berada di desa lain, maka si lelaki yang sedang dimabuk asmara akan datang mendekati desa tersebut. meskipun pada jarak yang cukup jauh, tiupan suling akan terdengar oleh sang gadis. Konon sang gadis akan gelisah sepanjang malam jika senggeger (pemikat kasih) betul-betul manjur maka sang gadis akan keluar rumah dengan sembunyi-sembunyi mencari dan mendekati suara suling tersebut. Suling Loang Telu sebelumnya diisi dengan mantra yang ditulis dengan huruf Jawa pada bagian dalam suling.
Suling Loang Telu ini sangat manjur, sehingga mengakibatkan banyak terjadi pelanggaran adat. Oleh Karena itu atas musyawarah adat yang terdiri dari Keliang dan Kiai Penghulu (pamong desa),  Suling Loang Telu dilarang dibuat dan dimainkan. Siapa yang melanggar akan mendapat sangsi adat tersebut, maka Suling Loang Telu tidak lagi dibuat. Sebagai gantinya Suling Loang Empat yaitu dengan menambah satu lubang. namun satu lubang ini hanya sekedar tambahan saja, karena tidak mempengaruhi produksi suara. Berarti pada zaman dahulu Suling Loang Telu memiliki fungsi sosial magis.
Cara Memainkan Suling Loang Telu
  • Bibir ditempelkan pada langan angin.
  • telunjuk kiri dan kanan masing-masing menutup satu lubang atas.
  • Ibu jari kiri menutup lubang bawah.
  • Lubang atas ketiga tidak pernah ditutup, karena merupakan lubang tambahan yang tidak mempengaruhi suara.

Hello world!


Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.